Home

Login Form






Saya lupa password!

Anda belum terdaftar?
Daftar disini!
Museum Simalungun, Siapa yang Peduli Kini?
Oleh ROSENMAN   
Wednesday, 11 July 2007

Siapa yang tak kenal Parapat ? Lokasi wisata pantai tersebut kerap dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Daerah wisata tersebut terdapat di daerah Simalungun, Sumatera Utara. Selain Parapat, di Simalungun juga terdapat obyek wisata Dolok Simarjarunjung dan Museum Simalungun.

Namun tampaknya nasib baik tak berpihak pada Museum Simalungun yang terdapat di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 10 Kota Pematang Siantar, Simalungun itu.

Padahal museum tersebut cukup kaya akan koleksi barang-barang peninggalan sejarah dan budaya Simalungun, baik itu peninggalan arkeologi maupun etnografi yang berumur ratusan tahun seperti samborik (alat rumah tanggayang terbuat dari kuningan untuk tempat sirih persembahan dan makanan adat), losung (alat menumbuk padi), baluhat (tempat air dari bambu), sapah (piring kayu) dan patiman (mangkok kayu tempat lauk-pauk), parlobong (kayu untuk membuat lobang untuk menanam padi), hudali (cangkul tempo dulu), assuan (cangkul dari batang enau), bubu (alat menangkap ikan dari ijuk) dan hirang (tempat hasil panen ikan) dan lain sebagainya.

Saat ini, peninggalan sejarah itu kurang terawat di dalam museum karena biaya pemeliharaannya cukup mahal, khususnya biaya pembersihan. Sehingga peninggalan sejarah itu bagaikan rongsokan saja dan terancam dimakan rayap. Kepala Museum Simalungun S Andreas Lingga kepada Sim.Net di kantor Museum Simalungun, Pematangsiantar baru-baru ini mengungkapkan, Museum Simalungun saat ini seperti objek wisata yang mati suri.

Baik pelancong lokal dari Kota Pematangsiantar, daerah Simalungun dan kota lain jug turis mancanegara semakin jarang singgah melongok museum tersebut. Kadang dalam satu bulan hanya beberapa orang yang datang berkunjung ke museum tersebut. Dari pantauan Sim Net ketika berkunjung beberapa kali ke Museum Simalungun, suasana sepi pengunjung masih belum berubah.

Sepertinya Museum Simalungun tak memiliki daya tarik apa-apa, mungkin karena lokasi Museum Simalungun yang berdiri sejak 14 Januari 1937 tersembunyi di samping kiri gedung Gereja Kristen Protesan Simalungun (GKPS) Jalan Sudirman Pematangsiantar.

Selain sepi pengunjung, menurut Andreas Lingga, Museum Simalungun juga tertinggal dalam pembangunan pariwisata Kabupaten Simalungun dan Sumatra Utara karena tidak ada program-program pengembangan. Kondisi bangunan museum kurang tertata apik, sehingga kurang mampu memikat hati pengunjung.

Selain itu kegiatan promosinya juga sangat minim atau bahkan tidak ada. Ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah setempat. Baik perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara. Bahkan kalangan intelektual dari Universitas Simalungun dan Universitas Sumatra Utara (USU) jarang melakukan studi mengenai peninggalan sejarah Simalungun yang ada di Museum Simalungun.

"Sebenarnya, saya sudah membuat program-program pengembangan Museum Simalungun agar menjadi objek wisata sejarah yang ramai dikunjungi turis. Program itu sudah disiapkan beberapa tahun lalu setelah saya beberapa kali mengadakan studi banding ke museum tingkat internasional seperti di Inggris, Belanda dan Singapura", jelas Lingga.

Berdasarkan studi tersebut, museum harus dikelola secara profesional dengan cara memilah-milah objek kunjungan berdasarkan usia pengunjung. Misalkan museum untuk anak-anak yang dilengkapi permainan. Kedua, museum untuk kalangan remaja yang dilengkapi alat-alat pembelajaran. Ketiga, museum untuk kalangan ilmuwan yang dilengkapi dengan kelengkapan bahan penelitian. Keempat, museum untuk umum yang menyajikan berbagai objek dan informasi tentang peninggalan sejarah dan budaya Simalungun.

"Program tersebut sudah kita matangkan sebenarnya. Tetapi karena dukungan dana belum ada, belum ada program yang terwujud. Kita sebenarnya sudah mulai membangun ruang pertemuan dan pentas seni di lokasi museum sejak tahun 2003. Tetapi bangunan itu saat ini terbengkalau karena uangnya 'dimakan' oleh oknum pelaksana proyek," ujarnya.

Akibatnya menurut S Andreas Lingga, kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya Simalungun tersebut kini semakin tidak dikenal generasi muda karena mereka jarang berkunjung ke museum daerahnya. Kemudian informasi mengenai kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya itu juga semakin langka di masyarakat.

Dia mengharapkan, di era otonomi daerah ini, peluang untuk mengangkat kembali peninggalan sejarah dan seni-budaya Simalungun cukup luas. Namun untuk mencapai cita-cita itu, pemerintah daerah dan kalangan intelektual Simalungun harus memiliki komitmen yang tinggi memajukan objek wisata sejarah dan budaya, seperti Museum Simalungun di Pematangsiantar dan Rumah Bolon Simalungun di Pematang Purba.

Kalau objek wisata sejarah dan budaya di Simalungun mampu dikelola secara profesional dan mampu menarik minat wisatawan lokal saja, warisan sejarah dan budaya Simalungun akan bisa dipertahankan di masyarakat Simalungun.

"Nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya juga akan lenyap karena tak pernah dikenal dan diperdulikan lagi oleh generasi muda Simalungun. Karena itu Museum Simalungun ini jangan sampai kita lupakan," katanya. Kondisi museum kebanggan Simalungun itu, kini bagaikan mati suri. Siapa yang peduli ?.(Tim SimNet.)

Update terakhir ( Sunday, 05 August 2007 )
 
Masyarakat Raya Harus Proaktif
Oleh Timnet   
Friday, 20 July 2007

Pematang Siantar, Simalungun.Net

Ketua Lembaga Partuha Maujana Simalungun Jomen Purba, Jumat (20/7), meminta masyarakat Raya agar menyikapi pemindahan Kantor Bupati Simalungun dari Pematang Siantar ke Kecamatan Raya dengan positif. Menurutnya, masyarakat jangan hanya menjadi penonton tetapi harus menjadi pelaku untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Peluang tersebut dikatakan sangat strategis untuk memberdayakan ekonomi rakyat. Misalnya, membangun rumah makan dan hotel berkelas serta berbagai usaha lain yang mendukung Raya sebagai ibu kota Kabupaten Simalungun.

Jomen yakin, rencana pemindahan ibu kota Simalungun ke Raya pada April 2008 juga akan dimanfaatkan pelaku dunia usaha dari daerah lain untuk mengembangkan usahanya. Apalagi mereka sudah ada yang memiliki lahan di lokasi-lokasi strategis.

Menyikapi kondisi tersebut, putra daerah diminta tidak apriori. Tetapi memandangnya sebagai suatu kemajuan untuk lebih agresif dan profesional memanfaatkan peluang di daerahnya sendiri.

Namun, ia mengakui, jika hanya mengharap peran putra daerah yang tinggal di Raya, upaya tersebut jelas kurang maksimal. Karenanya, para putra daerah yang sudah sukses di perantauan harus turut memacu pemberdayaan ekonomi rakyat dengan melakukan investasi-investasi strategis.

Hal senada dikatakan Adil Saragih (35), salah seorang warga yang memiliki lahan di sekitar Kantor Bupati Simalungun di Raya. Masyarakat sebenarnya sudah siap menyambut perpindahan ibu kota Simalungun tersebut. Lebih dari itu, masyarakat mulai menyadari eksistensinya sebagai putra daerah, sehingga tidak mudah menjual lahannya kepada orang lain meskipun dengan harga tinggi. TimnetWink

Update terakhir ( Friday, 20 July 2007 )
 
April 2008, Kantor Bupati Simalungun Ada di Raya
Oleh Timnet   
Sunday, 15 July 2007

Pematang Raya, Simalungun.Net

Bupati Simalungun optimistis Sekretariat Pemerintahan Kabupaten Simalungun dapat pindah ke Kecamatan Raya pada April 2008. Walaupun pembangunan sarana dan prasarana di Raya baru sekitar 30 persen, waktu sembilan bulan cukup untuk merampungkannya. Apalagi kendala-kendala sudah dievaluasi dan aral yang mungkin ada di kemudian hari sedapat mungkin diantisipasi.

Di kompleks yang baru selain perumahan untuk PNS, juga dibangun mess (penginapan) dan guest house (penginapan untuk tamu) berbiaya Rp4,5 miliar. Saat ini di Raya tidak ada tempat penginapan yang memenuhi syarat untuk karena di Raya sendiri belum ada penginapan yang berkualitas. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah mengenai sarana jalan. Dan ini tetap mendapat perhatian Pemkab. Seluruh dana diupayakan masuk pada P-APBD Simalungun tahun 2007.

Pemkab akan membangun 100 unit perumahan PNS seluas 30 hektare di lahan pembebasan PTPN IV Kebun Marjandi, Kecamatan Panei. Setelah selesai, PNS diberi kesempatan dan kemudahan untuk memilikinya. Dengan demikian, ratusan PNS yang selama ini masih bermukim di Pematang Siantar bisa lebih dekat ke Kantor Bupati di Raya.

Tahap selanjutnya, Raya juga harus memiliki pusat pasar untuk komoditas pertanian unggulan. Sehingga, hasil pertanian itu tidak lagi dijual ke luar daerah seperti selama ini. Seiring dengan adanya pembangunan sarana dan prasarana pendukung di ibu kota Simalungun yang baru itu, masyarakat diharapkan Bupati turut mendukung melengkapi fasilitas lain seperti rumah makan. Untuk itu, diharapkan warga sudah sejak sekarang mempersiapkan diri agar dapat menyesuaikan dengan perubahan cepat yang akan berlangsung di Raya. TimnetWink

 
Selengkapnya...
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Results 5 - 8 of 9

Who's Online