|
|||||
|
Parjalaran namangihut aima “Haluan” manggantih huruf “a” gabei “i”
Saya adalah salah satu warga simalungun yang merantau ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada 20 Maret 2010 mendatang kami akan mengadakan acara Marsombuh Sihol dan Pengenalan Adat Istiadat Simalungun bagi Warga Simalungun Se Kalimantan Timur dan sekitarnya… Masih kuingat tahun 1984 waktu itu usiaku 7 tahun, sebelum 1984 aku (serta mama, papa, Wenny dan Helen botouku) juga pernah ke tanah Simalungun, tanah kelahiran papaku, waktu itu kami dibabtis di GKPS Parjalangan. Sekalian mendaftar masuk ke Huria lagi. Karena papa dan mama menikah secara Islam. Namun yang nyata kuingat adalah waktu 1984 dimana aku dan papa pulang ke Parjalangan untuk melihat kuburan oppung doliku yang baru dikubur beberapa hari sebelumnya (mungkin kalau tak salah). Maklum karena masa itu surat baru sampe seminggu, dan perjalanan dari Bengkulu ke Parjalangan memakan waktu 2 sampe 3 hari perjalanan. Satu hal yang sangat kuingat dalam perjalananku dari Kota Siantar ke Parjalangan adalah jalannya yang seperti kubangan. Maaf kalau saya bilang kubangan, tapi memang kenyataannya seperti itu. Desember 1993, saat aku kelas 1 SKMA, aku dan papa ke Parjalangan lagi, jalan itu masih sama berlubang sana sini, susah milih jalan yang bagus. Kalau hujan seperti kolam di tengah jalan, saat panas seperti di gurun debu. Saat aku ditugaskan ke Sidikalang tahun 1996, aku melalui kampung papa, waktu itu bapa tua bilang kalau jalan ke Sidikalang jelek. Ternyata memang bukan cerita saja, jalannya lebih mirip kubangan sapi ketimbang jalan. Sekarang aku tugas di Siantar dan mertuaku tinggal di Sidikalang. Jadi jalan Siantar - Sidikalang sudah menjadi lintasan wajib bagiku. Waktu telah berganti, tapi situasi jalan memang tidak separah seperti dulu dalam ingatan si Ucok kecil (maklum namaku Ucok Firda Purba). Tapi lubang-lubang itu agaknya susah ditutupi. Apakah jalan Siantar-Saribudolok sampai perbatasan Simalungun-Karo masih akan seperti ini ? Kantor Bupati yang dulunya di Siantar, sudah pindah ke Pematang Raya. Apakah masyarakat yang tinggal di daerah Simalungun atas dan para perantaunya masih ingin menjalani jalan yang berlubang ? Aku yang bukan Simalungun asli tak pingin menjalani jalan yang berlubang, bagaimana dengan kalian yang Simalungun asli (lahir dari ayah ibu Simalungun) ? Apakah orang Simalungun di tubuh Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun hanya bisa diam-diam saja ? “(Au kadang heran do halani bahat do hita halak simalungun na lang mambotoh bahasa simalungun. Terlebih ma ai na dob lahir i parantauan. Menurut ku age pe lahir janah marbaggal i parantauan, kan lan adong salahni anggo iajari namatorasni marbahasa simalungun…..Halani anggo lang hita generasi muda na laho malestarihon bahasa janah adat istiadat simalungun, ise nari…ulang ma holi gabe magou hasimalungunonta ai….) posting 28 April 2009″ Menarik memang bahasan tentang kami-kami yang lahir di perantauan tapi tidak bisa berbahasa Simalungun. Sebelumnya perkenalkan saya Ucok Firda Purba, nama Ucok sengaja dicantumkan bapak saya supaya orang tahu saya orang batak, jadi saya Ucok asli sampai mati. Sebenarnya kamipun ingin bisa fasih berbahasa Simalungun. Khususnya pada saya sekeluarga, berasal dari ayah Simalungun dan ibu Muara Enim (Sumatera Selatan) dan besar di Bengkulu. Dari 4 bersaudara cuma saya yang lumayan mampu mengartikan bahasa Simalungun, karena kebetulan tugas di Siantar. Tapi kebetulan pula istri saya orang Toba. Jadi bahasa saya Simatob (Simalungun Toba). Hal ini mempersulit saya memilah-milah mana yang bahasa Simalungun atau Toba. Satu hal lagi belum ada kamus bahasa Simalungun yang saya lihat beredar di pasaran. Jadi saya mempelajarinya melalui perbandingan antara Bible dan Alkitab. Mudah-mudahan hal ini menjadi introspeksi bagi kita semua untuk merubah bangsa Simalungun yang saya cintai. (Artikel berikut dikutip dari Berita Simalungun) ( Oleh : Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh ) Pengantar Berangkat dari persoalan di atas, timbul pertanyaan di kalangan kaum muda - kalau benar marga Girsang bukan masuk Purba, berarti marga “Girsang” itu tidak sama dengan Purba, dan karena Di sini saya kutip uraian Tideman dalam bukunya Simelongoen tentang asal-usul raja Silimakuta : “Raja yang pertama berasal dari Lehu(Sidikalang Pakpak Dairi) bernama Si Girsang. Ketika ia berburu sampailah ia ke Tanduk Banua (Sipiso- piso). Di sana tiba-tiba dijumpainya Horbo Jagat (kerbau bulai) dan menyangka di sekitarnya ada kampung. Ia lalu memanjat pohon tinggi dan melihat ada kampung besar merga Sinaga bernama Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika Tuhan Bagaimana dengan Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar? Dari tulisan Tideman tersebut dapat dismpulkan, bahwa Si Girsang tidak diketahu bermarga apa, yang jelas, namanya Si Girsang. Jadi kalau ada kalangan marga Girsang yang mengatakan Girsang bukan cabang dari marga Purba, ini dapat diterima, karena itu adalah hak yang bersangkutan. Namun yang perlu dipertanyakan lagi, menurut Tideman - tentunya ia mencatat informasi dari kalangan raja Silima Kuta - asal dari pemburu Si Girsang dari Lehu di dekat Sidikalang (afkomstig Lehu Pakpak Dairi). Di sana Tideman menulis “afkomstig” = berasal dari, jadi belum tentu “berketurunan” dari penduduk asli Lehu yang Etnis Pakpak,boleh jadi ia hanya singgah di sana dan seterusnya mengembara ke Simalungun. St. Djaidin Girsang dalam tulisannya Kerajaan Nagur dengan daerah vasalnya Kerajaan Dolog Silou masih berkuasa atas Purba, Raya dan Nagasaribu, karena status ketiganya adalah “partuanan banggal” Kerajaan Dolog Silou sebelum ditingkatkan menjadi “landschap” pada zaman Belanda sejak 1907 (Korte Verklaring). Jadi kalau dirunut dari jalan sejarah di atas, keberadaan marga Girsang di Silimahuta (kecuali di partuanan Dolog Batu Nanggar-Panei) Simalungun masih baru; sekitar pertengahan abad XVIII. Dan jika dilihat dari penolakan marga Girsang yang tidak mengakui Girsang merupakan cabang marga Purba (khususnya yang berasal dari Silimakuta), cukup menegaskan kenyataan sejarah kalau Si Girsang yang menurunkan marga Girsang di Silimakuta baru sejak zaman Belanda atau tepatnya pada tahun 1907 berstatus kerajaan di Silimakuta dan bukan seketurunan dengan marga Purba Tambak yang menurunkan raja-raja Silou, Panei dan Dolog Yang membingungkan lagi dalam Pusataha Parpandanan Na Bolag yang menceritakan sejarah perpecahan Kerajaan Nagur di abad XIV, ada disebut-sebut nama tokoh Si Girsang Doriangin. Demikian pula di sejarah Kerajaan Dolog Silou ada disebut Si Juhar marga Purba Girsang yang menurunkan marga Purba Girsang keturunan Tuan Badja Purba Girsang tuan Dolog Batu Nanggar (Saribulawan). Mengingat marga Girsang di Nagamariah baru ada di pertengahan abad XVIII sedangkan marga Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar sudah ada setidaknya di abad XV yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Dolog Silou; apakah tidak tertutup kemungkinannya jika Si Girsang yang berangkat dari Lehu menuju Nagamariah adalah cucu buyut dari Tuan Partanja Batu Purba Girsang dari Dolog Batu Nanggar Meminjam ungkapan budayawan Simalungun Pak Mansen Purba, SH dalam bukunya “Pangarusion pasal Adat Perkawinan Simalungun” yang mengatakan, “seng dong hinan batta Simalungun, parsaninaon halani nasamorga, tapi halani na sahasusuran do. Age pe dos morga, lape tottu ai na sahasusuran. Aima ase dong panggoranion i pudini morga in, tanda ni na sada hasusuran ope.” Jelasnya menurut beliau, di Simalungun “marsanina” bukan karena “satu marga” atau dari marga yang sama, tetapi dilihat dari sejarah asal-usulnya. Kalau dari seketurunan nenek moyang yang sama, maka disebut “marsanina” Dan kalau raja Silimakuta yang merupakan keturunan dari Si Girsang dari Lehu itu di pertengahan abad ke-18 masuk ke Naga Mariah mengaku bukan bercabang dari marga Purba, kalau demikian ia bukanlah suku Simalungun, karena sejak zaman dahulu suku Simalungun terdiri dari empat cabang marga saja, yakni Sinaga Saragih, Damanik dan Purba. Dan memang baik Tuan Dolog Batu Nanggar bermarga Purba Girsang dan saninanya raja Panei bermarga Purba Dasuha masing-masing mengambil permaisuri dari puteri raja Siantar bermarga Damanik, sementara kita lihat di Silimakuta permaisuri Silimakuta bukan dari Siantar, tetapi dari Tongging bermarga Munthe.Ini merupakan suatu fakta yang patut dipertimbangkan dalam memutuskan apakah memang Purba Girsang di Silimakuta dan Dolog Batu Nanggar itu dari keturunan nenek moyang yang samakah atau berbeda? Penutup Penulis adalah seorang pendeta GKPS bermarga Purba artikel lain seputar simalungun dan batak www.maxrajapurba.webs.com Gati do hurimang-rimangi baggal ni pasu-pasu na dop ibere Tuhan bani daerah si Silaukahean on, Tanoh na lambut, horja hu juma seng pala hona mataniari janah borgohan songon huta hatubuhanku. Manderes dua jam sukkup bahen panganon saminggu. On ma ha pe tene surga na inagori tongah na iberehon Tuhan in batta masyarakat Silaukahean. Dop kossi ai hutonggor hu bani hanami masyarakat silaukahean sebagai sipanrajai bani ganup pasu-pasu na dop i sediahon in, tarsonggot tumang do uhur, songon na i tanoh dorkis-dorkis do pangahapan. Mangan susah, niombah seng marhatotuan (masa depan suram ), bapa mabuk i bahen bahatni bagot, inang melus halani loja marombo, mamikkiri bapa na mabuk janah i parjudian do tong, niombah na lang mambalosi podah. On ma gatni neraka na i nagori tongah ai tene. Husukkun bani diriku sandiri, janah hu kawahkon hu pudiku, tarjawab ahu ma sukkun-sukkunku: MASE DONG NERAKA I TANOH NA LAMBUT ? Jawabni on do hape : - . Seng i botoh hanami ise hanami i lobei ni si Pambere Pasu-Pasu na baggal ai. -. Uhur latei bani hasoman (bongak). On do hape ganup sibahen ai. -. Naha do pandapotta, anggo isukkun “Aha do Andalan hun Simalungun” Horas Simalungun. Saya sangat setuju sekali bila budaya simalungun tetap dilestarikan khususnya di perantauan. Nah bagaimana hal ini bisa tercapai tentu tidak lepas dari sosialisasi-sosialisasi pihak-pihak tertentu. misalanya keberadaan PMS, dan para tokoh-tokoh budaya simalungun yang lainnya. Jangan hanya berdiam diri, dengan bendera yang sudah dipegang, dan kalau saya melihatnya program untuk budaya simalungun harus diutamakan,dan terjun langsung di lapangan, karena tanpa hal tersebut budaya simalungun perlahan-lahan tapi pasti, akan ketinggalan jauh dari yang lain, apakah kita menginginkan hal tersebut ? Tentu tidak.Satu contoh bila generasi kita tidak suka lagi misalnya Tor-Tor Simalungun tentu hal ini perlu diantisipasi.Saran dari saya seperti PMS yang ada sekarang mari untuk bergerak seperti membuat perwakilan-perwakilan di daerah, agar wadah organisasinya tereleasisasi dan berjalan.Dttp ma. Lagu yang saya punya : Untuk Admin yg saya hormati. Kalo bisa disediakan page khusus untuk siapa saja yang ingin menyumbangkan musik, foto, dan apapun tentang Simalungun. Karena saya punya koleksi lagu Simalungun. Memang tidak banyak, tapi saya ingin membaginya dengan yang lain XD Nassiam ganupan hasoman Simalungun, Hinan tikki web Simalungun.Net on i pajong-jong hanami, adong do sada rencana na lape tarhorjahon sahalak hanami. Rencana ai aima na sihol manuliskon ganupan pasal paradaton Simalungun. Mase porlu on nituliskon…? Mardingat ni generasi muda/i Simalungun domma merap i sab tanoh on, adong ma deba ai na lang tubuh be i huta(tanoh simalungun), siholdo homa sidea marlajar mambotoh budya Simalungun ai ma lewat mambasa buku atau pe han media(koran dan internet). Tahun 2008 nalewat, adong dopiga-piga mahasiswa marsukkun hubakku,atik adong ibotoh sumber-sumber budaya Simalungun na boi basaonni atap pe na sihol perdalamonni - ai ma na domu hubani keperluan studi ni. Tapi sayangni semangat ni sidea marlajar ai lang ope tarimbangi hubani ketersediaan ni materi. Ra do sukkun-sukkun generasi muda/i Simalungun sonai on ‘huja hanami marlajar anggo lang adong sumber ni?” Sonai homa orang tua irumah ra do lang sai idingat mangajarhkon, atau patugahkon, pasal tradisi, adat istiadat ni Simalungun. Marhiteihon postingan on sihol do hanami manukkun hubani ganupan hasoman Simalungun,ai ma nassiam bapa/inang, tutur sanina/botu pakon ganupan senior/tokoh-tokoh Simalungun. Atik adong do buku nassiam pasal budaya paradaton ni Simalungun? Anggo adong ibotoh nassiam ase patugah nassiam hubani admin (admin@simalungun.net ) Atau boi do langsung publikasihon nassiam ijon dengan cara buat postingan baru dari Dashboard (harus login dulu) Horas simalungun |
|||||
|
Copyright © 2010 Simalungun.Net - All Rights Reserved |
|||||
Komentar Pembaca