Arsip

Pesona Simalungun

Marlajar Aksara Simalungun (Parlajaran napatoluhkon)

Parjalaran namangihut aima “Haluan” manggantih huruf “a” gabei “i”

tambah
Penulis: Darman

Pengenalan Adat Istiadat Simalungun di Kalangan Anak Perantauan

Saya adalah salah satu warga simalungun yang merantau ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada 20 Maret 2010 mendatang kami akan mengadakan acara Marsombuh Sihol dan Pengenalan Adat Istiadat Simalungun bagi Warga Simalungun Se Kalimantan Timur dan sekitarnya…
Menujuk pada Tujuan tersebut di atas, saat ini kami menemui kendala karena kurangnya sumber - sumber bagi kami mengenai adat-adat,pakaian,makanan.kostum2,tari2an dll yang menyangkut dengan kebudayaan simalungun yang rencananya akan kami tampilkan pada secara slide show pada acara tersebut. Dengan ini bagi hita haganup na boi mambere bantuan hubannami na laho mandapot sumber2 yang akurat dan lengkap, harap di uhur nami boi mambere informasi hubannami hu alamat email on : uli.hotma@yahoo.co.id
Etah Riap hita malestarihon budaya dan adat istiadat simalungun ase ulang magou holi dob ni
Diatei Tupa

Jalan Simalungun Atas Masih Seperti Dulu ?

Masih kuingat tahun 1984 waktu itu usiaku 7 tahun, sebelum 1984  aku (serta mama, papa, Wenny dan Helen botouku) juga pernah ke tanah Simalungun, tanah kelahiran papaku, waktu itu kami dibabtis di GKPS Parjalangan. Sekalian mendaftar masuk ke Huria lagi. Karena papa dan mama menikah secara Islam.

Namun yang nyata kuingat adalah waktu 1984 dimana aku dan papa pulang ke Parjalangan untuk melihat kuburan oppung doliku yang baru dikubur beberapa hari sebelumnya (mungkin kalau tak salah). Maklum karena masa itu surat baru sampe seminggu, dan perjalanan dari Bengkulu ke Parjalangan memakan waktu 2 sampe 3 hari perjalanan.

Satu hal yang sangat kuingat dalam perjalananku dari Kota Siantar ke Parjalangan adalah jalannya yang seperti kubangan. Maaf kalau saya bilang kubangan, tapi memang kenyataannya seperti itu.

Desember 1993, saat aku kelas 1 SKMA, aku dan papa ke Parjalangan lagi, jalan itu masih sama berlubang sana sini, susah milih jalan yang bagus. Kalau hujan seperti kolam di tengah jalan, saat panas seperti di gurun debu.

Saat aku ditugaskan ke Sidikalang tahun 1996, aku melalui kampung papa, waktu itu bapa tua bilang kalau jalan ke Sidikalang jelek. Ternyata memang bukan cerita saja, jalannya lebih mirip kubangan sapi ketimbang jalan.

Sekarang aku tugas di Siantar dan mertuaku tinggal di Sidikalang. Jadi jalan Siantar - Sidikalang sudah menjadi lintasan wajib bagiku. Waktu telah berganti, tapi situasi jalan memang tidak separah seperti dulu dalam ingatan si Ucok kecil (maklum namaku Ucok Firda Purba). Tapi lubang-lubang itu agaknya susah ditutupi. Apakah jalan Siantar-Saribudolok sampai perbatasan Simalungun-Karo masih akan seperti ini ?

Kantor Bupati yang dulunya di Siantar, sudah pindah ke Pematang Raya. Apakah masyarakat yang tinggal di daerah Simalungun atas dan para perantaunya masih ingin menjalani jalan yang berlubang ?

Aku yang bukan Simalungun asli tak pingin menjalani jalan yang berlubang, bagaimana dengan kalian yang Simalungun asli (lahir dari ayah ibu Simalungun) ? Apakah orang Simalungun di tubuh Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun hanya bisa diam-diam saja ?

Bahasa Simalungun Bagi Anak Yang Lahir Di Perantauan

“(Au kadang heran do halani bahat do hita halak simalungun na lang mambotoh bahasa simalungun. Terlebih ma ai na dob lahir i parantauan. Menurut ku age pe lahir janah marbaggal i parantauan, kan lan adong salahni anggo iajari namatorasni marbahasa simalungun…..Halani anggo lang hita generasi muda na laho malestarihon bahasa janah adat istiadat simalungun, ise nari…ulang ma holi gabe magou hasimalungunonta ai….) posting 28 April 2009″

Menarik memang bahasan tentang kami-kami yang lahir di perantauan tapi tidak bisa berbahasa Simalungun.

Sebelumnya perkenalkan saya Ucok Firda Purba, nama Ucok sengaja dicantumkan bapak saya supaya orang tahu saya orang batak, jadi saya Ucok asli sampai mati.

Sebenarnya kamipun ingin bisa fasih berbahasa Simalungun. Khususnya pada saya sekeluarga, berasal dari ayah Simalungun dan ibu Muara Enim (Sumatera Selatan) dan besar di Bengkulu. Dari 4 bersaudara cuma saya yang lumayan mampu mengartikan bahasa Simalungun, karena kebetulan tugas di Siantar. Tapi kebetulan pula istri saya orang Toba. Jadi bahasa saya Simatob (Simalungun Toba). Hal ini mempersulit saya memilah-milah mana yang bahasa Simalungun atau Toba. Satu hal lagi belum ada kamus bahasa Simalungun yang saya lihat beredar di pasaran. Jadi saya mempelajarinya melalui perbandingan antara Bible dan Alkitab.
Memang ada kelemahan saya dalam belajar bahasa Simalungun yakni saya kurang suka belajar bahasa Simalungun dari pergaulan di kedai-kedai, karena saya jenis yang tidak suka ke kedai. Hal ini karena masa kecil saya yang benci melihat bapak pejudi dan pemabuk. Sampai-sampai ibu saya yang sudah masuk Kristen karena kawin sama bapak, jadi beralih kembali memeluk agama Islam karena hal ini.
Yang terakhir, saya sangat ingin melestarikan budaya Simalungun, tapi Simalungun yang bebas dari judi dan miras. Karena saya melihat dalam setiap acara adat selalu ada disediakan tuak dan kartu, baik saat anak lahir, persiapan pernikahan, meninggal dan lain-lain. Apa tidak ada kesibukan lain yang bisa menjadikan bangsa batak sebagai bangsa yang berbudi ?
Apalagi bagi saya yang memiliki 2 budaya, yakni budaya batak Simalungun Toba dan Muara Enim.

Mudah-mudahan hal ini menjadi introspeksi bagi kita semua untuk merubah bangsa Simalungun yang saya cintai.

Benarkah marga girsang bukan cabang dari marga purba?

(Artikel berikut dikutip dari Berita Simalungun)
“Kalau bukan sama, berarti perkawinan antara marga Purba dengan Girsang bukan hal yang terlarang menurut adat…!”

( Oleh : Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh )

Pengantar
Asisten Residen Simalungun dalam karya klasiknya, Simeloengoen menulis bahwa pada dasarnya di Simalungun sejak zaman dahulu kala hanya ada empat marga di Simalungun, yakni marga Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba (Sisadapur). Dan memang dari karya-karya klasik penulis-penulis Belanda, baik Tideman maupun Tichelman sebagai pejabat kolonial Belanda selalu menulis Purba Girsang. Yang kita pertanyakan, sejak kapan penulisan dengan “Girsang” tanpa “Purba” itu dimulai? Asumsi saya berdasarkan perbincangan dengan tokoh-tokoh Simalungun dan para orangtua Simalungun, penulisan marga Girsang tanpa Purba itu masih baru, belum sampai seratus tahun. Pada waktu penulis bertugas di Sekretariat J-100 di Jakarta dalam rangka penulisan sejarah GKPS tahun 2003 kemarin, penulis berbincang-bincang dengan salah seorang tokoh marga Girsang yang dengan marahnya menolak ucapan saya yang mengatakan Girsang itu merupakan sub sib atau cabang dari marga Purba. Beliau dengan marahnya mengatakan, “Girsang adalah Girsang bukan Purba, kami marga Girsang bukan masuk cabang marga Purba tetapi masuk ke cabang marga Sihombing Lumbantoruan.” Dan memang Bapak Brigjend TNI (Purn) Djorali Purba Dasuha sebagai Ketua Umum Harungguan Purba se-Jabotabek menginformasikan kepada penulis bahwa dari 24 cabang marga Purba Simalungun yang mengaku berasal dari Simalungun, marga Girsang akhirnya keluar dari perkumpulan marga Purba Simalungun tersebut karena ngotot tidak mengakui Girsang bercabang dari induk marga Purba Simalungun.

Berangkat dari persoalan di atas, timbul pertanyaan di kalangan kaum muda - kalau benar marga Girsang bukan masuk Purba, berarti marga “Girsang” itu tidak sama dengan Purba, dan karena
menurut mereka, Girsang berketurunan dari marga Sihombing Lumbantoruan berarti Girsang merupakan cabang dari marga etnis Batak Toba. Dan jika memang benar bukan cabang dari marga
Purba mengingat Hukum Adat Perkawinan Simalungun hanya melarang perkawinan “nasamorga” berarti, karena Girsang dan Purba merupakan dua margayang berbeda, maka tidak ada
larangan lagi menurut adat yang menghalangi perkawianan antara marga Girsang dengan marga Purba, karena yang dilarang menurut adat perkawinan Simalungun adalah kawin semarga karena dianggap masih satu keturunan dari nenek moyang yang sama. Polemik asal marga Girsang Tideman dalam karya, Simelongoen menuliskan, bahwa Si Girsang yang merupakan leluhur dari raja Silimakuta yang menggantikan mertuanya tuan Nagasaribu bermarga Sinaga berasal dari Lehu Sidikalang Pakpak Dairi.
Dari silsilah raja Silimakuta diperkirakan ketibaan Girsang di Naga Mariah diperhitungkan sekiar pertengahan abad XVIII. Sedang pengangkatan Naga Saribu menjadi kerajaan barulah Sejak tahun 1907 dengan nama Kerajaan Silimakuta.

Di sini saya kutip uraian Tideman dalam bukunya Simelongoen tentang asal-usul raja Silimakuta : “Raja yang pertama berasal dari Lehu(Sidikalang Pakpak Dairi) bernama Si Girsang. Ketika ia berburu sampailah ia ke Tanduk Banua (Sipiso- piso). Di sana tiba-tiba dijumpainya Horbo Jagat (kerbau bulai) dan menyangka di sekitarnya ada kampung. Ia lalu memanjat pohon tinggi dan melihat ada kampung besar merga Sinaga bernama Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika Tuhan
Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika, Tuhan Naga Mariah terancam musuh dari Siantar yang sedang berkemah di Paya Siantar dekat kaki Gunung Singgalang. Tuhan Naga Mariah mengharapkan bantuan dari Si Girsang mengusir musuh. Si Girsang menyuruh penduduk mengumpulkan sebanyak mungkin bermacam- macam duri dan diambilnya cendawan merah, diperasnya dalam air, racunnya diletakkannya pada duri-duri dan diletakkan di sepanjang jalan yang bakal dilalui musuh., sedangkan air yang beracun itu dimasukkannya ke dalam Paya Siantar. Musuh oleh karena itu semuanya mati kena racun.Ia melapor kepada Tuhan Naga Mariah dan berkata, “Nunga mate marsinggalang saribu di dolok i!” (beribu-ribu musuh sudah mati bergelimpangan di gunung itu), sehingga gunung itu dinamakan Dolok Singgalang dan namanya Saribu Dolok. Si Girsang lalu kawin dengan puteri dari Tuhan Naga Mariah dan karena ahli mencampur racun dinamai Datu Parulas. Setelah raja itu mati maka Datu Parulas ini naik tahta dan mendirikan kampungnya Naga Saribu yang menjadi ibukota. Kerajaannya dinamainya Si Lima Kuta karena dalam kerajaannya ada lima kampung yaitu: Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu Djandi, Mardingding dan Nagamariah. Setiap puteranya menjadi
tuhan di Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu Djandi, Mardingding dan Naga Mariah. Kemudian lahir lagi dua putera, yang tertua mendirikan kampung Janji Malasang dan mendirikan kerajaan kecilbenama Bage. Yang bungsu menggantikan Datu Parulas. Baru di tahun 1903 Kerajaan Bage tunduk di bawah Kerajaan Silimakuta.”

Bagaimana dengan Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar? Dari tulisan Tideman tersebut dapat dismpulkan, bahwa Si Girsang tidak diketahu bermarga apa, yang jelas, namanya Si Girsang. Jadi kalau ada kalangan marga Girsang yang mengatakan Girsang bukan cabang dari marga Purba, ini dapat diterima, karena itu adalah hak yang bersangkutan. Namun yang perlu dipertanyakan lagi, menurut Tideman - tentunya ia mencatat informasi dari kalangan raja Silima Kuta - asal dari pemburu Si Girsang dari Lehu di dekat Sidikalang (afkomstig Lehu Pakpak Dairi). Di sana Tideman menulis “afkomstig” = berasal dari, jadi belum tentu “berketurunan” dari penduduk asli Lehu yang Etnis Pakpak,boleh jadi ia hanya singgah di sana dan seterusnya mengembara ke Simalungun. St. Djaidin Girsang dalam tulisannya
tentang “Kisah Si Girsang Parultop- ultop Jadi Raja Silimakuta” (Medan, 1995:123-124) menulis (terjemahan bahasa Simalungun dialek Silimakuta), “Konon menurut cerita turun temurun, kelahiran Si Girsang ditengarai masalah di kalangan orang ramai, ini disebabkan kelahiran Si Girsang yang tidak lazim
(marbalutan) tidak seperti biasanya. Tanggapan khalayak simpang siur dan masing-masing membuat tanggapannya sendiri, ada yang mengatakan “anak panunda” bayi yang baru lahir ini, ada yang
mengatakan anak keramat, ada yang mengatakan anak sial dan lain-lain. Demikianlah tanggapan banyak orang, dan ada lagi yang mengatakan, “tidak patut anak ini dibiarkan hidup….; jadi timbullah usul orang ramai agar bayi tersebut dibunuh agar jangan mendatangkan kesialan pada seisi kampung. Ibu Si
Girsang adalah perempuan dari Lottung Sinaga, ia sangat masygul melahirkan Si Girsang, jadi disembunyikanlah Si Girsang di luar kampung agar dapat dipantau ibunya siang dan malam, tidak tega hatinya membiarkan anaknya dibunuh…setelah itu dinamailah ia Si Girsang mengingatpenderitaannya itu.” Dari beberapa sumber di atas disimpulkan, bahwa bayi yang disembunyikan oleh ibunya itu
berasal dari keluarga biasa (rakyat kebanyakan) karena disebut sebagai “penghuni kampung” (berbeda dengan leluhur raja-raja Simalungun yang seluruhnya berasal dari kalangan bangsawan); uraian Djaidin Girsang juga tidak menyebut Si Girsang berketurunan dari kalangan raja. Biasanya panglima-panglima
perang (raja goraha) raja Nagur (kerajaan tertua di Sumatera Timur) yang kemudian menjadi raja di Simalungun adalah kawin dengan panakboru (puteri raja) dari raja Nagur bermarga Damanik, seperti raja Tanoh Djawa (Sinaga), Silou (Purba Tambak), Panei (Purba Dasuha), tetapi Si Girsang tidak demikian. Setelah dewasa menurut uraian St. Djaidin Girsang ia kawin dengan puteri Tuhan Naga Mariah bermarga Sinaga yang kemudian “terusir” dari Naga Mariah dan sebagian keturunannya pindah ke Karo (Batu Karang) dan Girsang Sipangan Bolon Parapat. Ini membuktikan kenyataan sejarah kalau Si Girsang adalah pendatang dari luar Simalungun - dan bukan rakyat Nagur pada mulanya.

Kerajaan Nagur dengan daerah vasalnya Kerajaan Dolog Silou masih berkuasa atas Purba, Raya dan Nagasaribu, karena status ketiganya adalah “partuanan banggal” Kerajaan Dolog Silou sebelum ditingkatkan menjadi “landschap” pada zaman Belanda sejak 1907 (Korte Verklaring). Jadi kalau dirunut dari jalan sejarah di atas, keberadaan marga Girsang di Silimahuta (kecuali di partuanan Dolog Batu Nanggar-Panei) Simalungun masih baru; sekitar pertengahan abad XVIII. Dan jika dilihat dari penolakan marga Girsang yang tidak mengakui Girsang merupakan cabang marga Purba (khususnya yang berasal dari Silimakuta), cukup menegaskan kenyataan sejarah kalau Si Girsang yang menurunkan marga Girsang di Silimakuta baru sejak zaman Belanda atau tepatnya pada tahun 1907 berstatus kerajaan di Silimakuta dan bukan seketurunan dengan marga Purba Tambak yang menurunkan raja-raja Silou, Panei dan Dolog
Batu Nanggar (Purba Tambak, Purba Sigumonrong, Purba Sidasuha, Purba Sidadolog, Purba Sidagambir, Purba Siboro, Purba Tanjung dan Purba Girsang).

Yang membingungkan lagi dalam Pusataha Parpandanan Na Bolag yang menceritakan sejarah perpecahan Kerajaan Nagur di abad XIV, ada disebut-sebut nama tokoh Si Girsang Doriangin. Demikian pula di sejarah Kerajaan Dolog Silou ada disebut Si Juhar marga Purba Girsang yang menurunkan marga Purba Girsang keturunan Tuan Badja Purba Girsang tuan Dolog Batu Nanggar (Saribulawan). Mengingat marga Girsang di Nagamariah baru ada di pertengahan abad XVIII sedangkan marga Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar sudah ada setidaknya di abad XV yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Dolog Silou; apakah tidak tertutup kemungkinannya jika Si Girsang yang berangkat dari Lehu menuju Nagamariah adalah cucu buyut dari Tuan Partanja Batu Purba Girsang dari Dolog Batu Nanggar
sebagaimana uraian TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun ? Atau alternatif kedua, Si Girsang merupakan “pendatang baru” yang bukan kerketurunan dari Tuan Dolog Batu Nanggar ? Dugaan penulis makin kuat karena pada saat penulis bertugas di GKPS Resort Sumbul, dalam suatu kesempatan hal ini pernah penulis tanyakan kepada serang pengetua adat Pakpak (pertaki) bermarga Solin, pada saat mana sedang gencar-gencarnya pembangunan Tugu Girsang di Lehu. Beliau menjelaskan kepada penulis, bahwa sepengetahuannya, Girsang itu bukan marga Etnis Pakpak, dan tanah lokasi pembangunan tugu itu sendiri bukan tanah adat marga Pakpak, tetapi tanah adat marga
Batanghari dari etnis Pakpak yang dibeli oleh marga Girsang dari Saribudolok. Jadi Girsang bukan “marsanina” dengan Purba?

Meminjam ungkapan budayawan Simalungun Pak Mansen Purba, SH dalam bukunya “Pangarusion pasal Adat Perkawinan Simalungun” yang mengatakan, “seng dong hinan batta Simalungun, parsaninaon halani nasamorga, tapi halani na sahasusuran do. Age pe dos morga, lape tottu ai na sahasusuran. Aima ase dong panggoranion i pudini morga in, tanda ni na sada hasusuran ope.” Jelasnya menurut beliau, di Simalungun “marsanina” bukan karena “satu marga” atau dari marga yang sama, tetapi dilihat dari sejarah asal-usulnya. Kalau dari seketurunan nenek moyang yang sama, maka disebut “marsanina”
kalau sebaliknya, biar marganya sama, kalau masing-masing tidak mengakui nenek maoyangnya seketurunan, maka jelas bukan “marsanina”. Jadi berdasarkan rumusan ini, maka di antara marga Purba yang dapat disebut ‘marsanina” adalah keturunan dari raja-raja Silou dan Panei dengan partuanan-
partuanannya, seperti Purba Tambak (raja Dolog Silou), Purba Sigumonrong (Tuan Lokkung), Sidasuha (raja Panei), Sidadolog (Tuan Sinaman), Sidagambir (Tuan Raja i Huta), Tanjung (Tuan Tanjung Purba), Siboro (Tuan Siboro) dan Girsang (Tuan Dolog Batu Nanggar). Karena seluruh cabang marga Purba
ini menurut Pustaha Bandar Hanopan berasal dari nenek moyang yang sama Tuan Djigou Purba dari Tambak Bawang yang dating dari Gayo (Aceh) atau dari Pagarruyung.

Dan kalau raja Silimakuta yang merupakan keturunan dari Si Girsang dari Lehu itu di pertengahan abad ke-18 masuk ke Naga Mariah mengaku bukan bercabang dari marga Purba, kalau demikian ia bukanlah suku Simalungun, karena sejak zaman dahulu suku Simalungun terdiri dari empat cabang marga saja, yakni Sinaga Saragih, Damanik dan Purba. Dan memang baik Tuan Dolog Batu Nanggar bermarga Purba Girsang dan saninanya raja Panei bermarga Purba Dasuha masing-masing mengambil permaisuri dari puteri raja Siantar bermarga Damanik, sementara kita lihat di Silimakuta permaisuri Silimakuta bukan dari Siantar, tetapi dari Tongging bermarga Munthe.Ini merupakan suatu fakta yang patut dipertimbangkan dalam memutuskan apakah memang Purba Girsang di Silimakuta dan Dolog Batu Nanggar itu dari keturunan nenek moyang yang samakah atau berbeda?

Penutup
Penulis memang sadar kalau tulisan ini akan menimbulkan kontroversial di kalangan etnis Simalungun, khususya di kalangan marga Girsang dan Purba Simalungun. Tetapi mengingat falsafah etnik Simalungun “Habonaron do Bona” ini layak untuk dituntaskan oleh pengetua adat Simalungun. Jangan sampai akibat pengakuan marga Girsang ini menyebabkan kegalauan di kalangan generasi muda Simalungun.
Dan kalau memang Girsang tetap ngotot tidak mengakui dirinya bercabang dari marga induk Purba Simalungun, agar kelar dan tidak menimbulkan kesimpang siuran di tengah-tengah masyarakat, alangkah bijaknya, apabila hal ini dibahas dengan melibatkan para sejarawan, apakah benar “Girsang bukan cabang dari marga Purba?” Kalau memang benar, sepantasnyalah diumumkan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas, sehingga perkawinan antara marga Purba dengan Girsang bukan lagi sesuatu hal yang terlarang menurut adat Simalungun. Karena yang dilarang menurut adat adalah “mardawan begu” atau saling kawin mawin dengan pasangan yang semarga. Sehingga kedudukan marga Girsang di Simalungun jelas, dan para kaum muda yang ingin mencari pasangan hidupnya juga tidak ragu-ragu. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah seorang pendeta GKPS bermarga Purba
tinggal di Tepian Danau Toba Tongging-Taneh Karo Simalem

artikel lain seputar simalungun dan batak www.maxrajapurba.webs.com

Batta do i bere Tuhan Pasu-Pasu sibaggalan, tapi hita do sisombuhan.

Gati do hurimang-rimangi baggal ni pasu-pasu na dop ibere Tuhan bani daerah si Silaukahean on, Tanoh na lambut, horja hu juma seng pala hona mataniari janah borgohan songon huta hatubuhanku. Manderes dua jam sukkup bahen panganon saminggu. On ma ha pe tene surga na inagori tongah na iberehon Tuhan in batta masyarakat Silaukahean.

Dop kossi ai hutonggor hu bani hanami masyarakat silaukahean sebagai sipanrajai bani ganup pasu-pasu na dop i sediahon in, tarsonggot tumang do uhur, songon na i tanoh dorkis-dorkis do pangahapan. Mangan susah, niombah seng marhatotuan (masa depan suram ), bapa mabuk i bahen bahatni bagot, inang melus halani loja marombo, mamikkiri bapa na mabuk janah i parjudian do tong, niombah na lang mambalosi podah. On ma gatni neraka na i nagori tongah ai tene.

Husukkun bani diriku sandiri, janah hu kawahkon hu pudiku, tarjawab ahu ma sukkun-sukkunku:  MASE DONG NERAKA I TANOH NA LAMBUT ?

Jawabni on do hape :

- . Seng i botoh hanami ise hanami i lobei ni  si Pambere Pasu-Pasu na baggal ai.

-. Uhur latei bani hasoman (bongak).

On do hape ganup sibahen ai.

-.

PERTANIAN SIMALUNGUN

Naha do pandapotta, anggo isukkun “Aha do Andalan hun Simalungun”

Budaya

Horas Simalungun. Saya sangat setuju sekali bila budaya simalungun tetap dilestarikan khususnya di perantauan. Nah bagaimana hal ini bisa  tercapai tentu tidak lepas dari sosialisasi-sosialisasi pihak-pihak tertentu. misalanya keberadaan PMS, dan para tokoh-tokoh budaya simalungun yang lainnya. Jangan hanya berdiam diri, dengan bendera yang sudah dipegang, dan kalau saya melihatnya program untuk budaya simalungun harus diutamakan,dan terjun langsung di lapangan, karena tanpa hal tersebut budaya simalungun perlahan-lahan tapi pasti, akan ketinggalan jauh dari yang lain, apakah kita menginginkan hal tersebut ? Tentu tidak.Satu contoh bila generasi kita tidak suka lagi misalnya Tor-Tor Simalungun tentu hal ini perlu diantisipasi.Saran dari saya seperti PMS yang ada sekarang mari untuk bergerak seperti membuat perwakilan-perwakilan di daerah, agar wadah organisasinya tereleasisasi dan berjalan.Dttp ma.

Horas !!

Lagu yang saya punya :
1. Kumpulan Lagu Jhon Eliaman
2. Tading Ni huta
3. Rondang bittang
4. Tolu Sahundulan
dan ada sekitar 20 lagi, lupa saya judulnya. Kalo lagu batak toba banyak.

Idea XD !!!

Untuk Admin yg saya hormati. Kalo bisa disediakan page khusus untuk siapa saja yang ingin menyumbangkan musik, foto, dan apapun tentang Simalungun.

Karena saya punya koleksi lagu Simalungun. Memang tidak banyak, tapi saya ingin membaginya dengan yang lain XD

Butuh Referensi Budaya Simalungun

Nassiam ganupan hasoman Simalungun,

Hinan tikki web Simalungun.Net on i pajong-jong hanami, adong do sada rencana na lape tarhorjahon sahalak hanami. Rencana ai aima na sihol manuliskon ganupan pasal paradaton Simalungun.

Mase porlu on nituliskon…?
Mungkin bahat(buei) do generasi muda/i simalungun na magodang i panrattouan (lang itanoh Simalungun) tapi sihol ia marlajar budaya (khusus ni a ai paradataon pakon tradisi) Simalungun, tapi lang adong ope juppah si referensi na dear(mantap) na boi basa-basa on atap pe na jadi bahan parlajaran.

Mardingat ni generasi muda/i Simalungun domma merap i sab tanoh on, adong ma deba ai na lang tubuh be i huta(tanoh simalungun), siholdo homa sidea marlajar mambotoh budya Simalungun ai ma lewat mambasa buku atau pe han media(koran dan internet).

Tahun 2008 nalewat, adong dopiga-piga mahasiswa marsukkun hubakku,atik adong ibotoh sumber-sumber budaya Simalungun na  boi basaonni atap pe na sihol  perdalamonni  - ai ma na domu hubani keperluan studi ni. Tapi sayangni semangat ni sidea marlajar ai lang ope tarimbangi hubani ketersediaan ni materi.

Ra do sukkun-sukkun generasi muda/i Simalungun sonai on ‘huja hanami marlajar anggo lang adong sumber ni?” Sonai homa orang tua irumah ra do lang sai idingat mangajarhkon, atau patugahkon, pasal tradisi, adat istiadat ni Simalungun.

Marhiteihon postingan on sihol do hanami manukkun hubani ganupan hasoman Simalungun,ai ma nassiam bapa/inang, tutur sanina/botu pakon ganupan senior/tokoh-tokoh Simalungun. Atik adong do buku nassiam pasal budaya paradaton ni Simalungun? Anggo adong ibotoh nassiam ase patugah nassiam hubani admin (admin@simalungun.net )

Atau boi do langsung publikasihon nassiam ijon dengan cara buat postingan baru dari Dashboard (harus login dulu)

Horas simalungun